Kamis, 24 Mei 2012

PENYEBAB GIZI BURUK BAHASA INDONESIA


Tri Harun Syafii. Seperti pernah diungkapkan M. Syahrizal dalam artikelnya pekan lalu, mengenai merebaknya bahasa alay menjadi budaya bahasa yang berdampak terhadap kegadisan bahasa Indonesia, kini menjangkit menjadi virus yang mematikan. Bahkan pemakaian bahasa alay menjadi bahasa yang membudaya di Indonesia, khusunya dikalangan remaja yang menjadi penerus majunya bangsa ini.

Tidak jauh berbeda dengan hal bahasa alay, ternyata bahasa gaul juga menyorot perhatian anak remaja di Indonesia. Pemakaian bahasa gaul sepertinya memijak posisi Bahasa Indonesia sekaligus merusak keperawanannya. Kita tahu, bahasa gaul bukanlah bagian dari Bahasa Indonesia. Bahkan lahirnya bahasa gaul, tidak jelas dari mana asalnya, siapa Ayah dan Ibunya dan siapa nenek moyangnya. Bahasa gaul begitu menyorot perhatian kalangan anak muda. Tak heran posisinya semakin lama terus menggeser kedudukan Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Bahkan virus ini menjadi penyebab Bahasa Indonesia terjangkit gizi buruk.
Jelaslah, eksistensi bahasa gaul lebih menyorot perhatian dikalangan anak muda seperti : Loe, Gue, End! dan lain sebagainya. Tiga kata ini menjadi penyebab gizi buruk Bahasa Indonesia. Loe yang menyatakan kamu, Gue yang menyatakan saya dan End yang menyatakan selesai, kini berkembang luas di masyarakat, khusunya di sekumpulan anak muda yang seharusnya membawa perubahan ke arah yang lebih maju, malah terkena virus mematikan. Bahkan lebih parah lagi bahasa gaul ini dicampur-adukkan dengan Bahasa Indonesia yang susunannya sudah cukup sistematis dalam berbahasa. Anak Muda penyebab Utamanya Dampak negatif dari bahasa gaul atau bahasa alay justru membuat para pecinta Bahasa Indonesia menjadi gerah. Pasalnya penggunaan bahasa ini lebih memainkan popularitasnya ketimbang kualitas yang dimiliki. Kualitas Bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa yang peminatnya cukup banyak di dunia, kini dicoret oleh kalangan remaja Indonesia yang lebih memainkan kreativitas yang asal-asalan. Merebaknya bahasa Loe, Gue, End menjadi bintang di kalangan anak remaja.
Untuk memainkan popularitasnya, bahasa ini menjadi objek sebuah produk iklan (maaf, disamarkan) di televisi. Kita tahu peran media seperti televisi harusnya membawa dampak positif, bukan memberikan sumbangan menjadi wabah penyakit terhadap Bahasa Indonesia. Memang kreativitas itu perlu dalam sebuah produk iklan, untuk membujuk konsumen membeli produknya.
Secara sadar atau tidak sadar, peranan iklan dalam sebuah produk yang membawa Loe, Gue, End! menjadi merusak kualitas Bahasa Indonesia. Terbukti setelah seminggu iklan ini terbit, anak remaja ikut mempraktekkan gaya bahasa dari iklan itu. Inilah yang dikhawatirkan akan berdampak negatif di kalangan masyarakat. Bukankah remaja itu lebih suka mencontoh sesuatu yang dianggap baru dan populer? Mengapa sampai merusak keperawanan Bahasa Indonesia ? Siapa yang bertanggung jawab terhadap virus ini?
Bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. seharusnya lebih dijaga kelestarian dan kualitasnya. Jangan sampai virus seperti Loe, Gue, End menjadi penyebab rusaknya Bahasa Indonesia itu secara perlahan. Seperti yang pernah diungkapkan M. Syahrizal, Bahasa alay dapat merusak citraan penggunaan bahasa Indonesia yang tersusun secara sistematis.
Bukan hanya Bahasa Indonesia yang memiliki Kamus Besar, bahasa alay atau bahasa gaul pun turut menaikan popularitasnya untuk membuat Kamus Besar. Ini wabah sangat buruk jika tercipta Kamus Besar Bahasa Alay dan Bahasa Gaul. 
Siapa bertanggung jawab atas hal ini? Jawabannya terletak pada diri kita masing-masing. Sudahkah Bahasa Indonesia kita lestarikan atau belum? Bahasa yang peranannya tidak terlepas dari budaya, sudah sepantasnya kita lestarikan dan kita jaga. Jangan sampai bahasa dan budaya kita menjadi bahan perbincangan negatif bagi bangsa lain, akibat perbuatan kita sendiri.
Semua Bangsa Indonesia harus bertanggung jawab atas hal ini. Idiom menyatakan, Negara yang besar adalah Negara yang mampu menjunjung tinggi bahasa dan budaya. Bukankah kesetian terhadap bahasa menunjukkan suatu sikap hal yang positif. Seperti dikemukakan Garvin dan Mathiot (1972), terdapat tiga ciri pokok bahasa ditandai dengan : kesetiaan bahasa (language loyalty), kebanggaan bahasa (language pride) dan yang terakhir norma bahasa (awareness of the norm). Tiga hal ini sudah mampu membimbing kita serta memberikan penjelasan, kita harus cinta terhadap bahasa kita sendiri. Bangsa Indonesia harus setia terhadap Bahasa Indonesia. Mengapa demikian, karena kesetiaan terhadap bahasa dapat memberikan dorongan yang kuat agar suatu bangsa dapat mempertahankan bahasanya supaya dapat mencegah masuknya bahasa lain. Kebanggaan bahasa dapat mendorong orang mengembangkan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambang identitas dan kesatuan masyarakat.
Begitu juga dengan kesadaran akan adanya norma dapat mendorong orang menggunakan bahasanya dengan cermat, teliti, tepat, santun dan layak. Kesadaran ini akan menjadi penentu prilaku tutur dalam wujud penggunaan bahasa, (Gereda 2010). Dari itu, untuk menjaga kelestarian Bahasa Indonesia sudah sewajarnya kita menggunakan Bahasa Indonesia yang benar dan baik dalam kehidupan sehari-hari tanpa mencampurkan bahasa alay dan bahasa gaul ke dalam bahasa Indonesia, yang akan menjadi wabah penyakit berbahaya.
Jangan lagi menggunakan bahasa yang tak sewajarnya dicampurkan ke dalam Bahasa Indonesia. Apa salahnya kita menggunakan ‘kamu’ dan ‘aku’ dari pada kita berbahasa dengan logat ‘loe’ dan ‘gue’ yang merusak popularitas Bahasa Indonesia. Terutama kepada anak muda yang menggunakan bahasa gaul dan bahasa alay dalam hal berbicara maupun mengirim pesan. Adakah lebih baik, anak muda berbicara dengan Bahasa Indonesia yang kadar kesopanannya lebih tinggi dari pada bahasa gaul dan bahasa alay yang justru mendidik anak muda menjadi tidak berkarakter. Inilah permasalahan yang solusinya harus kita pikirkan bersama.
Banyak menganggap, bangsa ini sudah tidak bermoral lagi dalam segi berbahasa. Bahkan prilaku anak muda sekarang terlihat lebih sombong karena pemakaian bahasa Loe, Gue, End. Misalnya, "masalah buat loe ?". Terlihat jika dikaji lebih dalam, eksistensi bahasa ini, lebih meningkat tajam pemakaiannya di kalangan anak muda zaman sekarang. Bukankah sikap seperti ini berdampak negatif bagi bangsa karena bahasa Loe, Gue mengandung aroma kesombongan. Biasanya bahasa ini sering digunakan anak remaja di daerah Jakarta sebagai komunitas bahasa gaul mereka. Lagi-lagi ini berdampak negatif buat Bangsa Indonesia. mengapa?
Indonesia yang dikenal karena keramahannya dalam bertutur sapa, kini tercoreng akibat merebaknya bahasa gaul di kalangan anak muda yang mencampurkan keramahan menjadi sebuah kesombongan.
Jika tak segera diatasi, wabah penyakit bahasa gaul dan bahasa alay akan merusak sistem kekebalan Bahasa Indonesia. Jangan sampai bahasa kita tercoreng begitu saja, akibat ulah manusia tak bertangung jawab, menyuntikkan virus bahasa gaul dan bahasa alay ke dalam tubuh Bahasa Indonesia.
Sulit menghilangkan racun itu. Cara penanganan sedikit demi sedikit dapat membantu kita membuang virus yang menyebabkan gizi buruk terhadap bahasa Indonesia. Salah satu solusi paling ampuh ialah dengan tidak menggunakan bahasa yang menjadi virus dan menggantinya dengan memakai Bahasa Indonesia yang benar dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa tidak mencobanya?
Penulis: merupakan kader anggota UKMI Ar-Rahman FBS, Unimed

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar