Selasa, 05 Juni 2012

KESUSASTRAAN (PENGERTIAN DAN PENGGOLONGAN)

Kesusastraan berasal dari kata "susastra" mendapat imbuhan ke-an, susastra sendiri berasal dari gabungan kata "su" yang berarti baik, dan "sastra" yang berarti tulisan. Jadi, "susastra" berarti tulisan yang baik. Kesusastraan Indonesia memiliki arti jamak yang meliputi semua hal sastra Indonesia. Menurut definisi Usman Effendi, kesusastraan ialah
"semua ciptaan manusia dalam bentuk bahasa lisan maupun tulisan yang dapat menimbulkan rasa keindahan (bagus)." Secara umum kesusastraan Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Kesusastraan lisan, yaitu karangan/ ciptaan yang diwujudkan dalam bentuk bahasa lisan.
2. Kesusastraan tertulis, yaitu karangan/ ciptaan yang diwujudkan dalam bentuk bahasa tulis. 
Menurut bentuknya, kesusastraan dibagi menjadi:
a. Puisi, ialah bentuk kesusastraan yang terikat oleh banyaknya baris dapat tiap bait, banyaknya suku kata dalam tiap baris, dan sajak/ rima akhir kata dalam tiap baris.
b. Prosa, ialah bentuk kesusastraan yang bebas tidak terikat seperti pada bentuk puisi. Prosa dapat dibedakan menjadi: prosa bisa dan prosa liris (karangan yang berbentuk paduan antara prosa dan puisi, serta lebih mementingkan irama yang terikat oleh baik dan sajak).

A. Puisi
Berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu, puisi dibagi menjadi:

1. Puisi Lama
Puisi lama dibagi menjadi:
a. Mantra, ialah kata-kata yang mengandung hikmat dan kekuatan gaib.
b. Bidal/ peribahasa, yang meliputi:
1) Pepatah, ialah kiasan yang dinyatakan dengan kalimat, dan hal yang dikiaskan adalah sesuatu tentang keadaan atau kelakuan seseorang. Contoh: Rajin pangkal pandai; Hemat pangkal kaya.
2) Ungkapan, ialah kiasan tentang keadaan atau kelakukan seseorang dinyatakan dengan sepatak kata yang merupakan bagian dari kalimat (terdapat unsur simbolik dalam suatu ungkapan). Contoh: Orang itu sengaja dijadikan kambing hitam dalam kasus ini. (kambing hitam = orang yang dipersalahkan).
3) Perumpamaan, ialah kalimat yang mengungkapkan keadaa atau kelakuan seseorang dengan mengambil perbandingan dari alam sekitarnya. Contoh: Seperti air di daun talas; Bagai pungguk merindukan bulan.
4) Tamsil/ ibarat, ialah perumpamaan juga, namun diiringin dengan bagian-bagian kalimat yang menjelaskan. Contoh: Bagai kerapa di atas batu, hidup enggan mati pun tak mau; Bagai burung dalam sangkar, mata terlepas tapi badan terkurung.
5) Pemeo, ialah kata-kata atau slogan yang menjadi populer karena sering diucapkan kembali, yang sifatnya mengandung dorongan semangat atau ejekan. Contoh: Memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat; Merdeka atau mati; Sekali merdeka tetap merdeka.
c. Pantun, syarat-syarat pantun sebagai berikut: 1) terdiri dari empat baris, 2) tiap-tiap baris terdiri dari 8 sampai 10 kata, 3) dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya disebut isi pantun, dan 4) mementingkan rima akhir/ persajakan.
Contoh: 
Kalau ada sumur di ladang (a)
Bolehlah kita menumpang mandi (b)
Kalau ada umurku panjang (a)
Bolehlah kita berjumpa lagi (b)
Menurut isinya pantun dapat dibedakan menjadi:
1) Pantun anak-anak
Contoh:
Berburu ke padang datar
Mendaat rusa belang berkaki
Berguru kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi
2) Pantun orang muda/ percintaan
Contoh:
Jika pandai meniti buih
Selamat badan ke seberang
Jika tuan menaruh kasih
Boleh tuan datang bertandang
3) Pantun orang tua/ nasihat
Contoh: 
Bunga bakung di tepi kali
Sungguh indah dan menawan
Buat apa berilmu tinggi 
Bila tidak diamalkan
4) Pantun jenaka
Contoh:
Sungguh enak asam belimbing 
Tumbuh dekat tepi telaga
Sungguh enak berkawan sumbing
Biar marah tertawa juga
5) Pantun teka-teki
Contoh:
Buat apa bersedih hati
Menanti kawan belum tiba
Bila tuan bijak bestari 
Kuda apa berkaki dua
Menurut bentuknya pantun dibedakan menjadi:
1) Pantun biasa, seperti contoh yang telah dikemukakan sebelumnya disebut pantun biasa atau pantun saja.
2) Pantun berkait, disebut juga bantun berantai, ada pula yang menamakan seloka. Pantun berkait terdiri dari beberapa bait yang saling menyambung.
3) Talibun, pantun terdiri dari enam, depala, atau sepuluh baris. Bila terdiri dari enam baris maka yang tiga baris merupakan sampiran dan yang tiga baris berikutnya merupakan isi.
4) Pantun kilat (karmina), ialah pantun yang hanya terdiri dari 2 baris, baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua merupakan isi pantun.
Contoh: 
Kura-kura dalam perahu
Pura-pura tidak tahu
d. Syair, bentuk-bentuk syair sebagai berikut: 1) terdiri dari beberapa bait, 2) tiap bait terdiri dari 4 baris, 3) tiap baris terdiri dari 8 sampai 10 atau lebih suku kata, 4) tidak terbagi menjadi sampiran dan isi dalam tiap baitnya, 5) semua baris merupakan isi, 6) mengungkapkan suatu cerita, 7) rima akhirnya sama (a-a-a-a).
Menurut isinya syair dapat dibedakan menjadi:
1) syair dongeng
2) syair kiasan/ sindiran
3) syair hikayat
4) syair peritiwa
5) syair agama
e. Gurindam, syarat-syarat gurindam: 1) terdiri dari 2 baris, 2) memiliki rima (a-a), 3) baris pertama merupakan sebab, baris kedua merupakan akibat dari apa yang dipaparkan pada baris pertama, 4) secara keseluruhan berisi nasihat atau sindiran.
f. Kalimat berirama, ialah bentuk prosa tapi terdapat irama puisi di dalamnya.

2. Puisi Baru
Menurut bentuknya dapat dibagi menjadi:
a. Distikon (sajak dua seuntai), terdiri dari 2 baris dalam tiap bait.
b. Terzina (sajak tiga seuntai), terdiri dari 3 baris dalam tiap bait.
c. Quatrin (sajak empat seuntai), terdiri dari 4 baris dalam tiap bait.
d. Quin (sajak lima seuntai), terdiri dari 5 baris dalam tiap bait.
e. Sextet (sajak enam seuntai), terdiri dari 6 baris dalam tiap bait.
f. Septina (sajak tujuh seuntai), terdiri dari 7 baris dalam tiap bait.
g. Stanza atau oktaf (sajak delapan seuntai), terdiri dari 8 baris dalam tiap bait.
h. Soneta (sajak empat belas seuntai), terdiri dari 14 baris.
i. Sajak bebas/ puisi bebas, bebas dalam jumlah larik, suku kata dan juga rimanya. Contoh:
Aku
karya: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kultku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa lari
berlari
Hingga hilang pedih dan perih
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

3. Puisi Modern
Menurut puisi barat namun berlaku pula dalam kesusastraan di Indonesia menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi:
a. Balada, ialah puisi yang berisi kisah atau cerita, bisa berbentuk Epik, dapat pula berbentuk Lirik. Biasanya penuturan balada dilakukan dengan cara dilagukan.
b. Romance, ialah puisi yang berisi luapan perasaan kasih sayang terhadap kekasih atau pasangan hidup.
c. Elegi, ialah sajak yang menggambarkan kesedihan, ratapan, dan penderitaan.
d. Ode, ialah sajak yang berisi pujian dan sanjungan terhadap seseorang yang berjasa besar dalam masyarakat atau pujian sanjungan terhadap pahlawan bangsa.
e. Himne, ialah sajak pujaan kepada Tuhan atau disebut juga sajak keagamaan.
f. Epigram, ialah sajak yang berisi ajaran hidup dan semangat perjuangan.
g. Satire, ialah sajak yang berisi kritik atau sindiran yang pedas terhadap kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam masyarakat.

B. Prosa
Prosa ialah karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya baris atau banyaknya kata seperti halnya sebuah puisi. Berdasarkan perkembangan waktu ke waktu, prosa dibedakan menjadi:

1. Prosa Lama
Beberapa jenis prosa yang termasuk dalam prosa lama, yaitu:
a. Hikayat, ialah karangan yang mengisahkan tentang kehidupan raja-raja atau dewa-dewa. Dalam hikayat biasanya melukiskan kesaktian atau kehebatan pelakunya. 
b. Cerita-cerita panji, disebut pula hikayat yang berasal dari kesusastraan Jawa yang berkisah tentang 4 kerajaan di Pulau Jawa.
c. Cerita berbingkai, ialah cerita yang di dalamnya ada pula ceritanya. Cerita dalam cerita itu disebut cerita sisipan. Sehingga dapat dikatakan cerita berbingkai ini merupakan cerita yang bersusun.
d. Tambo, ialah cerita sejarah yang tidak sepenuhnya mengandung kebenaran karena dicampurkan dengan hal-hal yang tidak masuk akal.
e. Dongeng, ialah cerita yang lahir dari khayalan pengarangnya. Jadi dongeng bukan merupakan cerita yang benar-benar terjadi.

2. Prosa Baru
Jika dalam prosa lama cenderung mengungkapkan hal-hal yang bersifat khayal atau fiksi, dalam prosa baru cenderung mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Prosa baru dapat dibedakan menjadi:
a. Roman, ialah cerita yang melukiskan sesuatu kehidupan manusia baik perbuatan lahir maupun peristiwa-peristiwa batinnya. Roman beraliran romantisme.
b. Novel, meski dari bentuk novel terlihat sama dengan roman, namun dalam cerita novel cenderung mengungkapkan hal-hal yang beraliran realisme.
c. Cerpen, ialah semacam cerita rekaan yang dapat dijumpai pada media cetak atau sebuah antologi.
d. Kisah, yaitu menceritakan sesuatu hal baik benda hidup maupun benda mati.
e. Biografi (catatan riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain), dan autobiografi (catatan riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh oran itu sendiri).
f. Drama, ialah karangan yang berbentuk skenario lengkap dan diuraikan secara rinci oleh penulis, baik dari kalimat-kalimat dialog, petunjuk laku (gerak dan mimik), sampai tata panggung. Drama dapat dikatakan sebagai karya sastra yang sangat kompleks, dilihat dari penyampaiannya yang dilakukan dengan seni peran dan disisipkan dengan tata musik serta tari. 
g. Esai dan Kritik, ialah suatu kupasan atau pembicaraan tentang objek kebudayaan atau seni. Peninjauan objek itu sendiri berdasarkan pandangan penulis esai tersebut. Maka dari itu, esai bersifat subjektif. Penulisan esai tidak mengubah sesuatu, ia hanya membicarakan suatu hasil karya orang lain. Sedangkan kritik, berbeda dengan esai yang bersifat subjektif, kritik haruslah objektif. Dalam kritik, dikemukakan kebaikan maupun kekurangan dari objek (tulisan/karya orang lain). Sehingga kritik dapat diterima oleh semua pihak, baik orang lain maupun orang yang menghasilkan karya tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar